Rabu, 06 Mei 2009

Pilah-Pilih Bibit Unggul Sapi Perah


400 ekor sapi perah asal Australia masuk ke Indonesia melalui bandara Soekarno Hatta, bulan April lalu. Sapi perah ini di import oleh perusahaan peternakan dalam negeri untuk menanggulangi kekurangan suplai susu nasional.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi lahan yang luas untuk pengembangan peternakan sapi, baik sapi perah ataupiun sapi potong. Namun kekayaan lahan ini tidak diimbangi dengan kekayaan bibit sapi. Kondisi ini berdampak pada produksi nasional yang rendah sehingga negara ini harus menanggulangi kekurangan dengan melakukan import bibit ataupun hasil produksinya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Bibit sapi perah yang berhasil di import berjenis Friesien Holstein (FH). Sapi FH memang salah satu jenis sapi perah yang unggul dalam menghasilkan susu. Sapi FH terkenal dengan produksi susunya yang tinggi, bisa mencapai lebih dari 6350 kg/tahun dengan persentase kadar lemak susu 3-7%. Selain itu, FH merupakan jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia.

Perlunya bibit sapi perah unggul dibudidayakan karena sapi perah yang ada di Indonesia masih memiliki tingkat produksi susu yang rendah. Rata-rata produksi sapi perah di Indonesia masih kurang dari 10 liter/hari, padahal standar normalnya seekor sapi perah dapat menghasilkan susu sekitar 12 liter/hari. Hal ini menunjukkan bahwa sapi perah yang kita miliki masih jauh di bawah standar normal.

Import bibit sapi perah dianggap cara yang paling tepat untuk memperbaiki kualitas produksi yang ada saat ini. Namun, tidak sembarang import saja. Bibit sapi perah yang di import pun harus melalui tahapan seleksi yang panjang untuk dinyatakan sebagai bibit unggul. Sistem pilah-pilih bibit sapi perah pun dilakukan dengan ketat agar menghasilkan bibit unggul yang diinginkan.

Selain jenisnya, yang menjadi perhatian penting dalam pilah-pilih bibit sapi perah adalah pemilihan bibit dara (calon induk), pemilihan bibit sapi perah betina dewasa dan pemilihan bibit pejantan.

Pemilihan bibit dara dianggap penting karena akan menentukan hasil produksi susu di masa yang akan datang. Seekor sapi perah dara yang akan dijadian bibit unggul calon induk sebaiknya berasal dari induk dan pejantan yang menghasilkan produksi susu tinggi.

Selain itu, performa atau penampilan sapi perah dara harus baik, misalnya memiliki kepala dan leher yang sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar, jarak antara kaki depan dan kaki belakang cukup lebar. Pertumbuhan ambing dan puting baik, jumlah puting tidak lebih dari 4 buah yang letaknya simetris. Calon induk unggul ini tentunya memiliki tubuh yang sehat dan tidak cacat.

Memilih sapi perah betina dewasa sebagai bibit, performanya tidak jauh berbeda dengan pemilihan bibit dara. Sebaiknya, bibit sapi perah betina dewasa ini sudah pernah beranak, umur sekitar 3,5-4,5 tahun, produksi susu tinggi dan berasal dari induk dan pejantan yang memiliki kemampuan produksi susu tinggi. Bentuk tubuhnya seperti baji, mata bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan dan kaki belakang cukup lebar dan kuat.

Bentuk ambing pun mendapatkan perhatian besar. Sebaiknya ambing yang dimiliki cukup besar, pertautan pada tubuh pun cukup baik. Ambing apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari empat dan simetris, namun tidak telalu pendek. Sebagai bibit unggul, sapi ini harus sehat dan tidak membawa penyakit menular.

Setelah menyeleksi sapi perah betina, pemilihan bibit pejantan juga mendapatkan porsi yang sama besar. Seekor pejantan juga menentukan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan. Oleh sebab itu, seekor pejantan harus memenuhi kriteria sebagai pejantan unggul. Kriteria tersebut antara lain, umur sekitar 4-5 tahun dan memiliki kesuburan tinggi. Daya menurunkan sifat produksi susu yang tinggi wajib dinilikinya. Sama seperti betina, pejantan juga berasal dari induk dan pejantan yang memiliki performa atau produksi yang tinggi.

Penampilan seekor pejantan harus baik, besar badan yang dimilikinya harus sesuai dengan umur. Pejantan unggul juga mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik. Secara fisik, pejantan memiliki tubuh yang kuat, muka sedikit panjang, kepala lebar, leher besar, punggung kuat, pinggang lebar, pundak sedikit tajam dan lebar. Paha yang dimilikinya rata dan cukup terpisah, dada lebar dan jarak antar tulang rusuk cukup lebar. Badan panjang, dada dalam, lingkar perut dan lingkar dada besar. Pejantan tentu saja harus sehat dan bebas dari penyakit menular dan pastinya tidak menurunkan cacat pada keturunannya.


Asal Bibit Unggul Sapi Perah

Negara Eropa (Skotlandia, Denmark, Inggris, Perancis, Belanda dan Switzerland), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan) merupakan sentra peternakan sapi perah di dunia. Maka tidak heran bila banyak negara berusaha mengimport dan membudidayakan bibit unggul sapi perah dari negara tersebut.

Bicara tentang bibit unggul sapi perah, selain Friesien Holstein, banyak jenis sapi perah lain yang terkenal dengan produksi susu yang tinggi. Misalnya, sapi perah jenis Shorhorn yang berasal dari Inggris, sapi perah jenis Brown Swiss dari Switzerland, sapi perah jenis Red Danish dari Denmark, sapi perah jenis Droughtmaster dari Australia dan tidak ketinggalan sapi perah jenis Jersey dari selat Channel, antara Inggris dan Perancis.

(sumber: berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar