Jumat, 08 Mei 2009

Ayam Pelung: ‘Penyanyi’ Khas Cianjur


Suara merdu nan panjang terdengar dari arena kontes ayam pelung tingkat nasional yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak Institut Pertanian Bogor (HIMAPROTER IPB), tiga tahun lalu. Tentunya suara itu berasal dari kumpulan ayam pelung karena mereka bintang utama dalam kontes tersebut.

Kontes ayam pelung saat itu bertema MAMA DJAKARSIH. Setelah ditelisik, ternyata nama itu tidak asing dikalangan pencinta ayam pelung. Nama tersebut memiliki arti penting mengenai asal-usul ayam pelung yang belum jelas domestikasinya secara ilmiah.

Kiai H. Djarkasih atau Mama Acih dipercayai dikalangan peternak sentra ayam pelung sebagai pemelihara pertama ayam tersebut. Kisah ini diperkirakan sekitar tahun 1850, di mana Kiai H. Djakarsih, seorang penduduk desa Bunikasih, Kecamatan Warung Kondang, Cianjur, dalam mimpinya bertemu dengan Eyang Suryakancana, putra Bupati Cianjur.

Suryakancana dalam mimpinya menyuruh Djakarsih untuk mengambil seekor ayam di suatu tempat. Keesokan harinya, Djakarsih mendatangi tempat tersebut dan terkejut ketika menemukan seekor ayam jantan besar dan tinggi yang memiliki bulu jarang (trundul). Ayam itu lalu dibawanya pulang untuk dipelihara hingga dewasa.

Setahun kemudian ternyata ayam tersebut memiliki kokok yang terdengar enak dan berima merdu. Ayam pelung yang saat ini berkembang diyakini berasal dari hasil perkawinan ayam tersebut dengan seekor ayam kampung betina. Namun, kebenaran asal-usul ayam tersebut masih menjadi teka-teki yang belum terjawab.

Ayam pelung kini banyak dibudidaya di daerah pedesaan Cianjur. Ayam khas Cianjur yang bisa mencapai berat saat dewasa hingga 5-7 kg ini mulai banyak peminatnya. Semakin bertambahnya penggemar, penyebaran ayam tersebut makin meluas ke berbagai daerah seperti Bandung, Bogor, Sukabumi dan sekitarnya. Namun, untuk mendapatkan bibit ayam ini, bisa diperoleh di Kecamatan Warungkondang, Pacet, Cugenang, Cianjur dan Cempaka.

Ayam pelung merupakan salah satu ayam lokal yang bisa berkokok selain ayam berkisar dan ayam kokok balenggek. Selain tingginya mencapai 40-50 sentimeter, ayam ini berjengger tunggal (single comb) yang berdiri tegak, bercakar panjang dan besar. Ayam pelung digemari karena kokoknya yang panjang dan merdu.

Keunikannya dalam menghasilkan suara inilah yang menjadi daya tarik tersediri bagi pencintanya. Tak heran, banyak orang yang mengatakan ayam pelung sebagai ayam penyanyi. Ayam pelung bisa berkokok dengan durasi sekitar 10 detik bahkan lebih.

Suara kokoknya sangat khas, mengalun panjang, besar dan mendayu. Ayam ini dapat dikelompokkan dalam ayam berkokok panjang atau long crow fowl seperti ayam toutenko, toumaru dan kaeyoshi, bangsa ayam asli Jepang yang bisa berkokok dengan durasi sampai 15 detik.

Kokok merdu ini hanya dimiliki ayam pelung jantan karena kokok merupakan sifat kelamin sekunder pada ayam jantan dan sangat dipengaruhi hormon testosteron. Untuk menghasilkan suara yang panjang dan merdu, ayam pelung harus terus berlatih. Masa berlatih, terdiri dari dua fase, yaitu fase sensory dan fase sensorimotor.

Saat fase sensory, ayam jantan muda biasanya dipelihara berdekatan dengan bapaknya atau pejantan yang memiliki suara merdu. Pejantan inilah yang akan menjadi tutor baginya. Ayam ini akan merekam suara tutornya. Saat dewasa akan mulai bernyanyi dengan meniru suara tutor yang sudah terekam selama ini di otaknya.

Sedangkan fase sensorimotor, organ yang mengatur produksi suara atau yang disebut song control region (SCR) mengalami perkembangan pesat. Fase ini terjadi saat ayam tersebut sudah mengalami dewasa kelamin. Saat inilah ayam akan terus bernyanyi dan berlatih hingga mahir.

Sayangnya, isu yang berkembang sekarang ini, kualitas kokok ayam pelung mengalami penurunan yang dramatis. Ada dua faktor yang diduga menyebabkan penurunan kualitas kokok ayam pelung, terutama kualitas ayam-ayam juara. Pertama, adanya kekhawatiran dikalangan hobiis bila ayam juara dikawinkan dengan betina akan menurunkan kualitas suara ayam mereka.

Hobiis pun akhirnya memilih untuk tidak memberikan kesempatan untuk mengawini betina. Ayam jantan juara akan dipelihara di kandang individu yang di sebut ajeng. Kedua, ada anggapan bahwa tetua jantan tidak terlalu penting dalam perkawinan. Seleksi ketat pun hanya diberlakukan pada saat memilih ayam betina calon induk.

Ayam hias berleher panjang dan berkaki kokoh ini juga bisa dimanfaatkan sebagai ayam petelur atau pedaging yang unggul. Sebagai petelur, ayam pelung betina bisa menghasilkan 30 butir per periode dengan bobot setiap telur 50,66 gram. Ayam pelung betina yang masih berproduksi, harganya terbilang sangat mahal, sekitar Rp 500-800 ribu

Pertumbuhannya juga tergolong pesat. Jika ayam yang berwarna bulu dominan campuran merah dan hitam ini dikawinsilangkan dengan ayam kampung maka akan menghasilkan keturunan ayam berbadan besar.

Sayangnya, penggemar pelung kurang memanfaatkannya sebagai ayam petelur maupun pedaging. Mereka lebih tertarik menjadikannya ayam hias yang dinikmati keindahan suaranya. Hal ini dapat dimaklumi karena nilai jual ayam pelung sebagai penyanyi sangat tinggi. Apalagi jika ayam tersebut berhasil jadi juara kontes, ia dan keturunannya langsung bernilai mahal. (*berbagai sumber)

Juara Kontes, Harga Melangit

Ayam pelung sebagai ayam asli Indonesia memiliki tiga kelebihan sifat secara genetika, yaitu suara berkokok yang panjang dan mengalun, pertumbuhannya yang pesat dan postur badannya yang besar.

Yang paling dikenal dari ayam pelung adalah suara kokoknya yang indah dan panjang. Untuk mempertahankan ciri khas ini, para penggemar sering mengadakan kontes ayam pelung yang sering di sebut kongkur (conqour).

Kongkur yang sering diadakan oleh Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Indonesia (HIPPAPI) merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menumbuhkan motivasi para peternak dan penggemar ayam pelung. Biasanya kriteria yang dinilai pada kontes ini adalah kesehatan, bentuk, warna dan suaranya.

Aspek penampilan dinilai dengan melihat keadaan tubuh bagian depan dan belakang. Bentuk dan warna jengger, bentuk dan keadaan mata, hidung, bentuk paruh, leher, tembolok dan paruh juga mendapatkan penilaian.

Aspek penilaian suara meliputi volume, durasi kokok (kebat), suara angkatan (kokok depan), suara tengah dan suara akhir (tungtung). Ayam pelung memiliki kokok depan baik bila volume suara awal besar, bersih dan panjang.

Suara kokok tengah dikatakan baik bila suara tengah bervolume besar, bersih dan terjadi perubahan suara antara suara awal menuju suara tengah. Perubahan volume ini disebut bitu. Sedangkan suara akhir yang merupakan suku kata kokok akhir harus bervolume besar, bersih dan lunyu.

Untuk memenangkan kontes, kunci keberhasilan yang dapat dilakukan adalah memaksimalkan kebutuhan pokok ayam, seperti pemilihan idukan, perawatan bibit, pemilihan dan pemberian pakan, penanggulangan penyakit sampai perawatan menjelang kontes. Selain itu, para hobiis harus memiliki pengetahuan yang memadai dalam memelihara, merawat dan melatih ayam pelung agar kualitasnya lebih baik.

Jika memenangkan kontes, bukan hanya piala juara yang diperoleh. Harga ayam hingga keturunannya pun menjadi mahal. Untuk mendapatkan ayam pelung yang bertitel juara, siap-siap merogoh kocek dalam hingga Rp 10-20 juta per ekor. Harga yang tidak murah dibandingkan ayam biasa. Namun bagi hobiis harga ini sebanding dengan kelebihannya.

Sekarang ini, ayam pelung semakin terkenal dan diminati masyarakat umum, wisatawan nusantara dan mancanegara. Bahkan, seorang Putra Kaisar Jepang tertarik dengan ayam pelung hingga mengunjungi desa Warungkondang untuk melihat peternakan ayam tersebut. Ayam pelung sebagai sumberdaya genetik hewan (plasma nutfah), penting untuk dikembangkan dan dilestarikan. (**berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar